PROYEK KAWASAN INDUSTRI

Proyek Kawasan Industri Kolaka Utara

Peluang emas berinvestasi di Kawasan Industri Kolaka Utara
Menambah nilai preposisi Kabupaten Kolaka Utara
Persediaan tanah (land bank) yang berskala besar pada lokasi yang strategis dan berpotensi berkembang di Kabupaten Kolaka Utara

Pemerintah telah mendorong percepatan pembangunan industri bahan baku baterai lithium yang akan mendukung pengembangan kendaraan (mobil) listrik di Indonesia. Langkah strategis ini sesuai dengan implementasi peta jalan industri otomotif nasional dan program prioritas “Making Indonesia 4.0”.

Pemerintah Indonesia telah menandatangani Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan. Indonesia mampu memainkan peran strategis pada industri kendaraan listrik tadi dikarenakan adanya ketersediaan bahan baku Nikel dan mineral logam lainnya dan juga pasar domestik untuk mobil dan sepeda motor yang sangat besar.

Untuk itu kami menyiapkan infrastruktur untuk industri tersebut diatas melalui penyiapan kawasan industri yang terintegrasi dan modern.

Dalam Proyek Pembangunan Kawasan Industri yang terintegrasi ini di kelola oleh perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dari Malaysia dan China melalui PT Kawasan Industri Kolaka Utara (“KIKU”).

Kawasan Industri yang akan kami kembangkan sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (“RTRW”) Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara seluas 1.118 Ha pada tahap I yang saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan.

Kawasan Industri ini di desain untuk kebutuhan Industri Mobil Listrik modern yang terintegrasi secara menyeluruh mulai dari penyediaan bahan baku nikel yang berlimpah, infrastruktur dermaga (pelabuhan) untuk kegiatan ekspor impor, penyediaan tenaga listrik, kemudahan perizinan, ketersediaan air bersih, akses jalan dan transportasi darat, laut dan udara, pemukiman karyawan, hospitality dan infrastruktur pendukung lainnya.

Kami telah bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk mengambil bagian secara bersama-sama dalam mengajak Investor untuk berinvestasi dalam jangka panjang.

Kami mengundang Investor untuk menjadi offtaker atas produk Nikel olahan untuk Industri Kendaraan (mobil) Listrik dan industri pendukung lainnya.

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tenggara Wilayah Bagian Barat dan Utara
Pengembangan Kawasan Industri baru berbasis sumberdaya alam dan pengolahan mineral

Dengan Luas Lahan yang direncanakan lebih dari 1.500 Ha, Kawasan Industri Kolaka Utara ini didesain dan terbagi menjadi beberapa Zonasi yang terdiri dari :

1. Zona Industri Pengolahan dan Manufaktur
• Industri Pengolahan Mineral Logam Nikel dan Lithium Battery
• Industri Manufaktur Non-Ferrous Metal (Stainless Steel)

2. Zona Industri Perkebunan dan Kelautan
• Industri Pengolahan Kakao
• Industri Pengolahan Rumput Laut

3. Zona Energi
• Power Plant (PLTU Mandiri) berkapasitas 2 x 60 MVA dan Power Plant berteknologi Biomassa (Algae) berkapasitas 240 MW.

4. Zona Logistik
• Pusat Logistik dan Pergudangan serta Pusat Distribusi Barang dan Cargo Wilayah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah

5. Zona Ekspor
• Pusat Kegiatan Ekspor Mineral Logam Nikel dan Stainless Steel

6. Zona Commercial Business Area
• Pusat Perkantoran, Perhotelan, Perumahan, Fasilitas Pendidikan dan Rumah Sakit

Dengan Cadangan Bahan Baku Bijih Nikel sebanyak 43.783.055.024 metrik ton yang berasal dan terdapat di 3 kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara Wilayah Bagian Barat dan Utara antara lain Kab. Kolaka Utara, Kab. Kolaka dan Pulau Kabaena akan memberikan dukungan dan jaminan pasokan bahan baku pabrik (smelter) bagi Industri Pengolahan Mineral Logam Nikel dan produksi Lithium Battery untuk Kendaraan Listrik di masa mendatang.

Melalui PT CELEBESSI METALINDO UTAMA dan perusahaan afiliasinya berencana membangun lini produksi FeNi di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Pada Tahap ke-1 proyek, akan terbangun tungku 2 × 48000kVA dan fasilitas pendukung publik lainnya dengan hasil tahunan 160.000 hingga 180.000 ton akan dibangun menggunakan proses RKEF untuk menghasilkan paduan FeNi dengan kandungan nikel sekitar 12%.

Pada Tahap ke-2 proyek, akan dibangun tambahan tungku 2 × 48000kVA. Jadi total dalam kurun waktu tidak lebih dari 5 tahun kedepan sesuai dengan rencana bisnis Perseroan akan memproduksi FeNi sebesar 320.000 hingga 360.000 ton per tahun.

Kakao merupakan komiditas andalan untuk dapat diolah melalui Industri Pengolahan Kakao yang tersedia sebagai bahan baku pembuatan cokelat. Sumber pendapatan utama penduduk di wilayah Kab. Kolaka Utara di bidang perkebunan adalah perkebunan kakao, kelapa dan cengkeh. Investor Perusahaan Cokelat asal Perancis dan Belanda bersedia untuk membangun industri pengolahan kakao di kawasan ini.

Peruntukan Lahan untuk Kawasan Industri tersebut sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berdasarkan Peraturan Daerah Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara Nomor 6 Tahun 2012 tentang RTRW Pemerintah Kab. Kolaka Utara Tahun 2012 – 2032.

Proporsi penggunan lahan antara luas kawasan produktif (kavling industri) dengan luas kawasan non-produktif (sarana dan prasarana) berbanding antara 70 : 30 berdasarkan pembagian Zonasi yang diatur tersebut diatas.

Fasilitas Bandara Perintis yang akan dibangun oleh Pihak Pemerintah Kab. Kolaka Utara yang berlokasi di Kec. Kodeoha merupakan dukungan infrastruktur di bidang transportasi dan perhubungan dari Pemerintah setempat yang berjarak -/+ 25 KM menuju Ibukota Kabupaten Kolaka Utara di Lasusua.

Kawasan Industri Kolaka Utara ini nantinya akan diusulkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ke Pemerintah Pusat RI. Diarahkan sebagai Kawasan Industri Terpadu berwawasan lingkungan.

Kawasan Industri nantinya akan menyerap Tenaga Kerja Lokal sebanyak 15.000 orang lebih.

Kawasan Industri nantinya akan dibangun Power Plant (PLTU Mandiri) berkapasitas 2 x 60 MVA dan Power Plant berteknologi Biomassa (Algae) berkapasitas 240 MW.

Kawasan Industri akan terhubung dengan jalan arteri primer, Jl. Poros Trans Sulawesi Lasusua – Malili.

Kawasan Industri akan didesain dan dibangun nantinya bebas banjir, bebas abrasi dan ancaman dari bencana tsunami.

Fasilitas yang akan dibangun untuk mencapai infrastruktur yang memadai dan maksimal antara lain :

1. Ketersediaan Listrik, akan bekerjasama dengan PT PLN (Persero). Kondisi saat ini terdapat gardu induk dari sistem interkoneksi yang berada di Malili dan Lasusa, Kolaka Utara dengan jumlah daya sebesar 400 mega watt (MW) di Sulsel yang sudah terhubung ke Sistem Sultra.

2. Pelabuhan (Dermaga Khusus), akan dibangun 3 dermaga yang terdiri dari dermaga khusus untuk kegiatan bongkar muat barang curah dan dermaga khusus untuk kegiatan barang peti kemas untuk kegiatan ekspor mineral logam nikel dan stainless steel. Dan tambahan 1 dermaga khusus untuk angkutan orang dan tambat kapal.

3. Water Treatment Plant, akan bekerjasama dengan konsultan dan kontraktor Penyedia WTP, WWTP dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpusat.

4. Penyediaan Standar Kualitas Air Bersih dengan standar baku mutu badan air kelas I. Terdapat Sumber Air dengan jarak -/+ 2 KM dari Kawasan Industri.

5. Jaringan Telekomunikasi dan Internet, akan bekerjasama dengan PT Telkom (Persero) dan Operator Telekomunikasi Seluler.

6. Konstruksi Jalan akan dibangun dengan Tebal beton cor 25 cm. Jalan utama: ROW 32–56 m (Right of Way) dan Jalan sekunder: ROW 15–24 m (Right of Way).

7. Drainase Kawasan Industri dengan konstruksi Beton bertulang dan sistem terbuka. Sistem saluran buangan air hujan dan resapan yang dapat menampung air sehingga tidak terjadi genangan air dengan periode ulang hujan 25 tahun.

8. Akan dibangun Kawasan Perumahan untuk karyawan (Housing Estate for Laborers), Pusat Perkantoran dan commercial business area (ruko 2 lantai +).

9. Akan dibangun Fasilitas Umum dan Khusus berupa Kantor Perbankan, Restaurant, Mini Market, Kantor Pos & Jasa Titipan, Pusat Pertokoan dan Pusat Kebugaran.

10. Akan dibangun Perhotelan kelas bintang 4+ dan Rumah Sakit Type B+.

11. Akan dibangun Akademi/Politeknik Pengolahan dan Pemurnian Mineral Logam yang akan bekerjasama dengan Universitas dan Perguruan Tinggi Dalam dan Luar Negeri.

12. Fasilitas Pemadam Kebakaran melalui MPK (Manajemen Penanggulangan Kebakaran) yang modern dan terintegrasi.

13. Jaminan Keamanan selama 1 x 24 jam yang dilengkapi dengan CCTV dengan dukungan Tenaga Keamanan (Security) terlatih dan profesional yang akan bekerjasama dengan TNI-Polri.

14. Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 20% dari Total Luas Lahan Kawasan Industri untuk Fasilitas Olah Raga (jogging track) dan Rekreasi Keluarga.

15. Lampu Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS), bekerjasama dengan Produsen Solar Street Light merk SAVVi dari Jepang.

Sudah ada beberapa Investor yang akan masuk dan membuka Industri pengolahan di Kawasan Industri Kolaka Utara ini :
1. PT MBEP (PMA dari Malaysia untuk Pembangunan Power Plant Biomassa – Algae).
2. PT YTI (PMA dari China untuk Pembangunan Industri Refractories Material – Fire Bricks)
3. PT Celebessi Metalindo Utama Group (Industri Pengolahan Mineral Logam Nikel Ferronickel dan Nickel-Cobalt untuk Lithium Battery)
4. Perusahaan Industri Pembuatan Cokelat dari Perancis dan Belanda.

Saat ini progress proyek sedang berlangsung dan dalam proses Studi Kelayakan dan AMDAL serta perijinan kawasan industri di Pemerintah Pusat RI.

PROFILE KAWASAN INDUSTRI KOLAKA UTARA

Sarana dan pra-sarana Kawasan Industri Kolaka Utara
  • Jarak ke Pusat Kota Kabupaten : Min. 10 Km
  • Jarak ke Permukiman : Min. 2 Km
  • Jaringan Transportasi Darat : Tersedia jalan arteri primer (Jalan Poros Trans Sulawesi)
  • Jaringan Transportasi Udara : Akan terbangun dan tersedia lapangan terbang perintis dengan armada ATR 72 yang merupakan pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop yang memiliki kapasitas hingga 78 penumpang.
  • Jaringan Energi dan Kelistrikan : Tersedia
  • Jaringan Telekomunikasi : Tersedia
  • Prasarana Angkutan : Tersedia pelabuhan laut untuk kelancaran transportasi logistik barang maupun outlet ekspor/impor terdekat.
  • Sumber Air Baku : Tersedia sumber air permukaan (sungai, danau, waduk/embung, atau laut) dengan debit yang mencukupi.
Kondisi Lahan
  • Topografi : Max. 15%.
  • Kesuburan tanah : Relatif kurang subur (non-irigasi teknis) berupa lahan tambak dan sawah kering.
  • Pola tata guna lahan : Non-pertanian, non-permukiman dan non-konservasi.
  • Ketersediaan lahan : Luas lahan yang akan dikelola untuk tahap I seluas 1.118 Ha.
  • Harga lahan : Relatif (bukan merupakan lahan dengan harga yang tinggi di daerah tersebut).

Master Plan Kawasan Industri Kolaka Utara

Proyek Pembangkit Tenaga Listrik

  • Teknologi Konversi Algae menjadi Bahan Bakar Biomassa
  • Sebuah terobosan dalam pemanfataan energi baru terbarukan dalam penggunaan Biomassa generasi ketiga, juga dikenal sebagai biomassa maju atau hidrokarbon hijau, dibuat dari sumber non-pangan
Tentang Algae
Algae mikro sebagai bentuk kehidupan yang relatif sederhana dapat menggunakan sebagian besar energi yang ditangkap melalui fotosintesis untuk mendorong reproduksi dan menyimpan energi. Algae menyimpan energi dalam bentuk lipid. Lipid adalah antara 20% dan 80% dari keseluruhan biomassa dengan% tergantung pada spesies, kondisi lingkungan dan bioteknologi yang diterapkan. Lipid ini sekali diekstraksi dari ganggang dapat diproses menjadi biodiesel atau digunakan langsung dalam generator listrik. Lipid ketika dipisahkan dari biomassa terlihat seperti minyak nabati lainnya seperti minyak kacang kedelai dan minyak lobak. Banyak upaya, sering melibatkan pengeluaran modal besar, telah dilakukan untuk mengembangkan ganggang sebagai sumber energi tetapi sampai saat ini volume yang dihasilkan terlalu kecil dan biayanya terlalu tinggi. A-MAP berbeda karena:
Lapangan Terbukti dan Dikembangkan

Teknologi kami didasarkan pada hampir 20 tahun pengalaman terapan di lapangan. Sistem ini telah dikembangkan agar dapat diskalakan dan bekerja dengan ganggang apa adanya.

  • Kepadatan bio : A-MAP menyediakan biomassa Algae antara 2.000 dan 7.000 gram per ton air, ini hingga 8 kali lebih banyak daripada sistem produksi ganggang lainnya. Ini berarti kita membutuhkan lebih sedikit air.
  • Kepadatan Tangki : A-MAP menyediakan biomassa Algae antara 2.000 dan 7.000 gram per ton air, ini hingga 8 kali lebih banyak daripada sistem produksi ganggang lainnya. Ini berarti kita membutuhkan lebih sedikit air.
  • Pamanean : A-MAP menyediakan biomassa Algae antara 2.000 dan 7.000 gram per ton air, ini hingga 8 kali lebih banyak daripada sistem produksi ganggang lainnya. Ini berarti kita membutuhkan lebih sedikit air.
Efisiensi

Efisiensi ini adalah multiplikatif dan berarti A-MAP memiliki jejak hingga 232 kali lebih rendah dari kolam raceway, membutuhkan air yang jauh lebih sedikit dan memiliki nutrisi yang jauh lebih sedikit terbuang.

Untuk proyek ini, PT Celebessi Metalindo Utama ini bekerjasama dengan PT Mandiri Bio Energy Perkasa (sebuah perusahaan PMA dari Malaysia). PT Mandiri Bio Energy Perkasa akan menyiapkan lahan seluas 100 Ha untuk membangun Power Plant berkapasitas 200 MW yang akan dipergunakan oleh PT Celebessi Metalindo Utama untuk kepentingan penyediaan tenaga listrik untuk Kawasan Industri dan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Mineral Logam Nikel PT Celebessi Metalindo Utama.

Limbah dari teknologi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk pertanian dan pakan ternak. PT Celebessi Metalindo Utama akan memanfaatkan limbah pabrik ini untuk pemberdayaan UMKM setempat sehingga berdaya guna dan bermanfaat untuk masyarakat di sekitar wilayah operasi produksi dan merupakan salah satu program CSR Celebessi kedepannya.

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Atasi Krisis Energi dan Listrik di Sulawesi Tenggara Wilayah Bagian Barat

PT CELEBESSI METALINDO UTAMA berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mandiri dengan kapasitas 2 x 60 MW di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Pembangunan PLTU ini untuk mendukung penggunaan energi dan kelistrikan pada pembangunan dan operasi Smelter Nikel dan Kawasan Industri untuk kepentingan internal industri perusahaan. Selain berperan dalam mengatasi Krisis Energi dan Listrik di Sulawesi Tenggara Wilayah Bagian Barat.

Pembangunan PLTU PT CMU akan menciptakan lapangan kerja di wilayah operasi Smelter Nikel PT CMU. Proyek Pembangunan PLTU yang terintegreasi dengan Kawasan Industri ini akan menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

Dengan dibangunnya PLTU PT CMU, maka akan mendorong industrialisasi di wilayah Kabupaten Kolaka Utara khususnya akan berkembang sehingga diperlukan juga adanya pembangunan SDM di wilayah Kab. Kolaka Utara untuk meningkatkan ekonomi penduduk setempat. Pemerataan Pembangunan di wilayah Sulawesi Tenggara Wilayah Bagian Barat juga akan tercipta dengan adanya Pembangunan Kawasan Industri yang terintegerasi dengan penyediaan Tenaga Listrik melalui PLTU PT CMU.

Content Protective
Scroll to Top